Agama-agama Suku

Agama-agama Suku
Mitos Awi dan Kaka I Ase
( Versi orang Beta Abip, Ngalum)
Tempat asal manusia Ngalum adalah Aplim Apom sehingga dipandang dan diakui sebagai tempat pusaka. Sedangkan yang dipandang dan diakui sebagai pencipta adalah Awi. Sedangkan yang dipandang dan diakui sebagai manusia pertama adalah Sitom Yap dan Sitom Nip atau Kaka I Ase dan Kaka Ouker a. Dikisahkan bahwa setelah Awi menciptakan manusia, Ia bersama manusia ciptaanya menuju ke Ok Banal Baken yaitu Lembah Oksibil/Beta Abip. Dalam perjalanannya menuju ketempat tujuan, Sitom Yap tidaklah seorang diri, tetapi ia bersama perempuan yang bernama Sitom Nip serta dibawanya segala jenis benih-benih kehidupan. Adapun yang dibawa berupa segala macam jenis binatang, baik liar maupun jinak, aneka jenis tetumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya.
Dari sekian macam jenis benih, yang paling penting adalah tiang induk yang merupakan petunjuk, pengangan, pedoman, dan penopang kehidupan bagi manusia Ngalum. Selama perjalanan, tiang atau benda mistik itu menjadi petunjuk, pegangan, penyair, penanya, pendamping, jalan, pemikir serta perenung. Dengan bantuan benda mistik tersebut kedua menusia itu diajak untuk bermalam di tengah-tengah hutan/jalan. Kaka I Ase membuat sebuah pondok daun berukuran dua badan. Di tempat itu Awi menyimpan sebagian benih yang dibawanya. Pada malam harinya kedua manusia itu tidur secara terpisah. Namun perempuan itu meninggalkan tempat tidurnya dan pindah ke dekat laki-laki sehingga terjadilah hubungan persetubuhan yang pertama kali bagi manusia. Keesokan harinya manusia itu binggung karena karena kejadian semalam. Manusia itu mulai merenungkan dirinya dan nasibnya. Ia berpikir hendak berbuat apa?. Bagaimana dampaknya terhadap masa depannya?. Kemana dia harus pergi?. Dalam keadaan permenungan itu, dengan tak terduga terpancullah sebuah sungai dari dekat pantat perempuan itu dan mengalir ke arah selatan. Kedua manusia itu melanjutkan perjalanan melalui kali tersebut.
Di tengah jalan benda mistik yang mereka bawa dalam noken itu berkata “ada orang di depan”, sehingga ia mengajak kedua orang itu menyembunyikan diri dengan maksud supaya jangan dilihat oleh orang-orang itu. Kedua manusia itu menuruti petunjuk sehingga membiarkan orang-orang itu mendahului mereka. Kemudian mereka menyusul, tetapi mereka sangat hati-hati karena takut dilihat orang. Di tengah jalan benda mistik kembali berpesan kepada kedua manusia itu supaya untuk sementara ia disimpan di hutan/ di tengah jalan. Lalu kedua manusia itu menuruti kehendaknya. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan melalui sungai. Ditengah-tengah perjalanan mereka membuat sebuah kolam yang dikatakan sumur kehidupan bagi orang Beta Abip. Setelah itu mereka tiba di tempat tujuannya, Sitom Yap pun membuat sebuah pondok kecil bagi mereka berdua. Sedangkan kali kecil yang mangalir mendahului mereka menembus masuk ke dalam tanah dan membasahi seluruh kehidupan di permukakan bumi ini. Sungai ini merupakan air kehidupan bagi manusia Ngalum.
Pada malam pertama saja Sitop Nip dalam keadaan hamil tua, melihat keadaan istrinya, sang suami duduk dan merenung. Ia berkata dalam hatinya. Tidak baik jikalau manusia pria dan wanita hidup bersama dalam satu rumah. Oleh karena itu Sitom Yap mengumpulkan bahan dan mendirikan sebuah rumah yang bersifat khusus bagi dirinya. Tempat pengambilan bahan-bahan dipusatkan dimana benda mistik disimpan. Semetara Sitom Yap sibuk dengan bangunannya, istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki dan disusuinya. Semakin hari anak itu semakin menjadi besar. Suaminya membangun rumah dan mulai merencanakan meresmikan rumah itu. Selama sekian lama ia tidak muncul di rumah karena masuk hutan dan berburu. Namun ia tidak mendapatkan buruan. Ia sangat kecewa. Suatu saat ia muncul di rumah keluarganya. Ia melihat keadaan istri dan anaknya. Ketika istrinya melihat suaminya datang tanpa membawa apa-apa. Tanpa diberi kode ia tinggalkan anaknya lalu keluar hendak membuang air. Kesempatan itu digunakan oleh Sitom Yap untuk membunuh anaknya yang tunggal sebagai bahan persembahan, terjadilah niatnya. Ia membunuh anaknya dan dikeluarkannya seluruh isi perut dan dibungkus lalu diletakkan di tempat tidur istrinya. Sedangkan tubuh selurunya secara sembunyi-sembunyi dibawa ke hutan dan disimpan diatas pohon. Pada malam itu ia tidak pulang ke istirnya tetapi ke rumah pribadinya dan bermalam seorang diri. Pada malam harinya ia diserang oleh aneka jenis kutu sehingga tidak dapat tidur dengan baik. Rupanya ia diserang oleh arwah anaknya sendiri. Sementara itu istrinya tidur dengan aman.
Pada keesokan harinya, istrinya telah mendahului suaminya ke tempat disimpannya mayat anak itu. Lalu diambilnya dan dibawa pulang ke rumah untuk diolah. Dan disusul suaminya dan dijumpai pula seekor kuskus pohon jenis besar. Kuskus itu dibunuh dan dibawa pulang kerumahnya. Ketika tiba dirumahnya, istrinya sedang sibuk menghidangkan makanan. Tanpa memperhitungkan apapun terhadap istrinya ia mengambil dua bagian dan satu keladi bakar dan kembali kerumah pribadinya dan mulai melaksanakan rencananya. Setelah kuskus diolah dan siap dimakan, muncullah manusia-manusia mistis yang merupakan anaknya dari Sitop Nip. Setiap orang memegang ditangan mereka sepotong daging kuskus dan satu buah keladi bakar hasil olahan ibunya. Sitom Yap tidak bereaksi apa-apa atas kedatangan mereka. Setelah semua orang itu masuk mereka makan bersama. Peristiwa perjamuan ini bersifat kekeluargaan/acara keluarga. Setelah perjamuan, tanpa berbuat apa-apa mereka langsung tidur. Keesokan harinya Sitom Yap melihat dan merasakan kondisi badannya stabil, ternak dan tanamannya subur, cuaca cerah. Dengan melihat kenyataan itu ia mulai merenungkan diri dan berkata “sudah beres” tetapi bagaimana dengan anak-anaknya itu?. Mereka harus didewasakan, pikirnya. Maka ia mengantar mereka ke tempat semula, yakni temapat dimana tersimpanya benda mistik tersebut.
Dalam waktu singkat mereka tiba di tempat tersebut. Setibanya di tempat tersebut mereka memanggil benda tersebut dengan suara manusia, tetapi ternyata ia menyahut dengan siulan. Mereka dikaburkan oleh benda itu sendiri. Setelah ditemukan benda tersebut menyerahkan diri kepada manusia itu, lalu mereka secara bersama-sama memegangnya tanpa terkecuali. Lalu dengan tenang, penuh penghayatan dihantarnya kerumah. Setelah tiba di rumah, dengan kekuatannya sendiri ia keluar dari tangan mereka dan tertancap ditengah-tengah tungku api, menjadi tiang penopang kehidupan bagi manusia Ngalum. Setelah peristiwa itu Kaka I Ase merasa sudah selesai pekerjaannya, maka berakhirlah pula kisahnya.
Catatan tentang Kaka I Ase: ada yang mengatakan ia menjelma menjadi sejenis mahluk halus dan berperan sbagai pelindung rumah sakral. Ada pula yang mengatakan bahwa ia dibunuh oleh saudara-saudaranya sendiri dan dagingnya dibagi-bagi dan dimakan. Tetapi ada juga yang mengatakan ia menjelmah menjadi dewa bumi. Sedangkan tentang Kaka Oukor a, dikisahkan bahwa ia menjelamah menjadi ibu bumi.
Keterangan
Kaka I Ase adalah manusia pertama
Awi: Pencipta, zat teretinggi yang bersifat halus, dinamis dan hidup
Kaka: manusia
Ase: bapa, leluhur, tete
I: mereka
Kaka I Ase: mereka leluhur manusia
Dari ceritera diatas, saya berpendapat bahwa tidak ada kelogisan dalamnya, walaupun demikian orang Beta Abip meyakini kebenaran dari cerita itu. Cerita yang hampir sama juga terdapat pada masyarakat Ngalum dalam versi yang agak lain, dengan sedikit gubahan. Kalau dilihat oleh manusia-manusia modern, cerita ini hanyalah dongeng sebelum tidur, tetapi apa yang dilihat demikian oleh manusia modern, bagi orang-orang di pedalaman-pedalaman bukanlah sebuah dongeng melainkan suatu kebenaran yang hanya bisa diyakini sebagai benar.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa cerita mereka itu salah, karena melalui itu mereka hendak mencari kebenaran dari asal-usul mereka. Tingkat pemahaman mereka akan diri dan asal-usul tidak terlepas dari tempat dimana mereka hidup, dengan alam/ lingkungan hidup yang terdiri dari tetumbuhan, binatang-binatang, tanah, gunung, sungai dan lain sebagainya. Pemikiran mereka akan asal-usul dilihat berdasarkan tempat-tempat yang bagi mereka menakjubkan.
Mereka takjub akan alam lingkungan dimana mereka tinggal, dengan beraneka ragam tumbuhan, binatang dan lain-lainnya.Ketakjuban ini mendorong mereka untuk bertanya tentang alam sekitarnya dan akhirnya tentang diri sendiri. Ketika meraka bertanya tentang diri sendiri, munculah praduga-praduga tantang asa-usull mereka, dari situlah timbulnya cerita tantang asal- usul yang diteruskan secara turun temurun. Disamping itu mereka juga menghubungkan lingkungan hidup sebagai satu kesatuan dengan diri mereka. Mereka melihat keberadaan alam memiliki satu penyebab dan oleh karena juga menjadi penyebab dari keberadaan mereka.
Fr. Christianus Dogopia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasi atas kunjungan anda di Asso Suare, selamat jalan dan sampai jumpah

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah."

-- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.